Mereduksi Timbunan Buku

Saat pertama kali media tulis mulai diperkenalkan dan digunakan oleh Bangsa Yunani, seorang silfus asal Athena bernama Socrates (Σωκράτης), mengatakan bahwa media baru tersebut diprediksi akan membuat manusia menjadi makhluk yang malas mengingat.

Seiring dengan berjalannya waktu, sekitar tahun 1450-an, Johannes Gutenberg asal Jerman berhasil menciptakan teknologi mesin cetak. Penemuan tersebut dianggap oleh banyak kalangan sebagai penyebab rusaknya metode manusia dalam belajar.

Socrates (kiri) dan Gutenberg (kanan).

Mengapa bisa demikian? Karena jauh sebelum mesin cetak diciptakan oleh Om Gutenberg, awal mulanya budaya membaca hanya dilakukan oleh segelintir orang.

Untuk memperoleh bahan bacaan yang dibutuhkan, mereka harus datang ke perpustakaan untuk bisa mengakses buku. Di perpustakaan itu pula berbagai macam diskusi dilakukan bersama dengan para pembaca lainnya agar mereka bisa memahami secara mendalam isi dari buku yang dibaca.

Budaya Menimbun Buku

Setelah mesin cetak diciptakan, orang-orang akhirnya malas untuk pergi ke perpustakaan, karena kini semua orang bisa membaca buku di rumah masing-masing. Sehingga muncullah sebuah budaya baru dalam kehidupan sehari-hari, yaitu budaya mengoleksi buku.

Budaya semacam ini terus berkembang dan kini telah muncul sebuah tren atau kebiasaan baru yang disebut dengan 'Bibliomania' atau bisa juga disebut dengan 'Tsundoku' (積ん読), yakni perilaku seseorang yang memiliki keinginan kuat untuk memperoleh bahan bacaan, namun pada akhirnya ia akan membiarkan buku-buku tersebut menumpuk tanpa membacanya. Dengan kata lain, ditimbun.

Jika mengacu pada penjelasan di atas, maka saya pun telah menunjukkan gejala tersebut sejak jauh-jauh hari.

Saat masih duduk di bangku SD, dengan keterbatasan yang dimiliki saat itu, kegiatan mengkonsumsi buku tetap bisa dilakukan lewat koleksi perpustakaan yang telah disediakan oleh pihak sekolah. Tentu saja, tidak semua buku yang ada di sana sesuai dengan selera bacaan kita.

Namun, kini segala jenis buku yang kita inginkan bisa diperoleh dengan mudah di toko buku daring maupun konvensional. Selama masih ada sisa Rupiah untuk memboyong rilisan terbaru penulis favorit, maka seorang bookaholic akan sulit terhindar dari godaan "yang penting beli dulu, urusan dibaca entar aja belakangan". Hehe hhe hhe ~

Menghargai Karya, Menghargai Buku

Beberapa waktu lalu, godaan untuk menimbun buku kembali muncul secara masif dan sistematis saat salah seorang teman menawarkan satu set buku Seri Benda Langit (Tere Liye) dengan harga yang miring. Belum lagi, Gus Muh baru-baru ini juga merilis empat karya terbarunya.

Mendapati situasi semacam itu membuat kondisi psikologis saya mungkin bisa diibaratkan seperti pemerintah yang ingin mengimpor buku di saat jumlah buku di rak masih dalam kondisi melimpah dan belum semuanya dijamah. Jiah!

Setelah sejenak merenung (sambil sesekali ngemil), akhirnya benak saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa selama ini kita (cie, kita) memandang buku-buku tersebut hanya sebatas barang koleksi dan selalu merasa telah mengapresiasi karya seorang penulis dengan membeli buku orisinal mereka.

Padahal esensi paling penting dari buku adalah kandungan karya yang dihasilkan oleh penulis yang tertuang di tiap lembar  halaman yang kita baca. Koleksi buku yang kita miliki akan menjadi lebih berharga jika kita mampu mengapresiasi karya di dalamnya. 

Karena bentuk apresiasi paling elegan terhadap buku yaitu dengan membaca isi di dalamnya.

Challenge : Mereduksi Timbunan Buku

Saat ini koleksi buku yang saya miliki kurang lebih berjumlah 25 buah dan tentu saja belum semuanya tuntas dibaca. Bahkan beberapa diantaranya masih rapi terbungkus kemasan plastik.

Entah kenapa tiba-tiba muncul ide 'gila' semacam challenge yang menantang saya untuk membaca ulang seluruh timbunan buku tersebut dan menuliskan reviewnya di blog. Selama tantangan belum terpenuhi, dilarang melakukan kegiatan belanja buku.

Kira-kira mampu gak nih? 😅

Comments

  1. sebenarnya ada 1 media sosial goodreads yang biasa digunakan para bibliophile tuk bertukar pikiran, mengomentari, dan memereview buku² yg mereka baca. mungkin antum dah tau juga. dan bisa diintegrasikan ke blog.
    btw ini hbs berapa ya beli domainnya, trs nama font di komentar ni apa. kok enak di mata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah goodreads. Tapi apa daya saya takut terlalu subjektif dalam menilai karya wkwkwk apalagi dimasukin di situs begituan, om.

      Entah dulu beli berapa ya. Tapi barusan aku cek 99rb

      Kalau gak salah nama fontnya Nobile.

      Delete
    2. anjer kok murah. ya namanya review ya subyektif lah. kan sesuai persepsi pembaca atas apa yg dia baca.

      ok thx infonya nnti tak caro fontnya

      Delete
    3. Itu bukan owe, owe baru dibagiin linknya nih, baru mulai membaca isi blognya

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Post a Comment