Sepotong Kue, Jerusalem, dan Biseksualitas



Film ini akan selalu menjadi kontroversi untuk ditonton, khususnya bagi sebagian besar masyarakat kita, karena The Cakemaker mengangkat beberapa topik sensitif sebagai bumbu cerita seperti homoseksual, Yahudi, dan Israel. But yeah, sebenarnya kalian akan tetap bisa menikmati film ini dan belajar beberapa hal baru dari sudut pandang yang berbeda—tentu saja—dengan pikiran terbuka.

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, film ini dibuka dengan kisah romansa antara Thomas dan Oren. Dengan latar Kota Berlin yang dingin, hubungan dua pria dewasa tersebut cukup pelik untuk dijabarkan dengan 'wajar' mengingat fakta bahwa Oren masih menjalin rumah tangga dengan Anat, seorang wanita asal Israel, dan mereka telah dikaruniai dua orang anak.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa Oren adalah biseksual, dan Thomas adalah pelakor. Wkwkwk, oke lanjut.

Berbeda dengan Thomas yang tidak terlalu merisaukan kesendiriannya, Oren tipikal orang yang—menurut pandangan saya—masih realistis dalam menyikapi hidup. Realistis dalam artian, Oren masih menganggap rumah tangganya saat ini sebagai sesuatu yang penting untuk dipertahankan meskipun ia juga tak menampik fakta bahwa Thomas adalah rumah kedua bagi hidupnya.

Egois banget gak sih? Reaksi Thomas juga keliatan rada nyesek sih kalau dipikir-pikir. Semacam berusaha agar tampak fine fine aja saat Oren bilang begitu. Tapi ya begitulah. Saya rasa Thomas juga tahu diri posisinya sebagai orang ketiga dalam hubungan tersebut.

Jerusalem

Singkat cerita, setelah mendengar kabar bahwa Oren tewas akibat kecelakaan mobil, Thomas langsung bertolak ke Jerusalem dan berhasil bertemu dengan Anat, istri kekasih gay-nya tersebut.

Sebelumnya, perlu saya luruskan di sini bahwa Jerusalem yang menjadi latar film ini diceritakan secara implisit sebagai bagian dari teritori Israel. Seolah-olah film ini semacam propoganda terselubung untuk mengkampanyekan Jerusalem sebagai wilayah mereka.

Jika memang demikian, maka film (sejenis) ini bisa dibilang sukses karena sampai akhir film selesai saya sama sekali tidak merasakan 'eksistensi Palestina' di dalam film ini meskipun Jerusalem dijadikan latar utama. Of course, kalian boleh berpendapat apapun tentang masalah ini, karena saya pribadi juga tidak nyaman dengan klaim tersebut. Setidaknya lewat film ini, minimal, kita bisa mengetahui dan memahami gambaran bagaimana warga Israel (dan juga dunia Barat) melihat Jerusalem dari sudut pandang mereka.

Kosher

Entah kenapa setibanya di Jerusalem, Thomas mulai terobsesi untuk lebih dekat dengan Anat dan kedua anaknya sampai akhirnya ia bekerja di cafe milik janda tersebut sembari merahasiakan fakta dari Anat bahwa dirinya adalah laki-laki simpanan Oren selama ini. Kalian pasti akan bertanya-tanya apa tujuan Thomas sampai sejauh itu.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya dari film ini yakni tentang 'kosher'. Jika kalian searching informasi tersebut di internet, bisa dibilang kosher ini semacam stempel makanan "halal" versi ajaran Agama Yahudi. Seperti halnya para Muslim yang sangat berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan yang halal, orang-orang Yahudi pun demikian. Bahan makanan yang mereka konsumsi juga perlu dilakukan sertifikasi oleh lembaga khusus.

Cafe milik Anat juga tak luput dari sertifikasi tersebut. Bahkan ada scene di mana salah seorang pelanggan menanyakan terlebih dulu apakah makanan yang dijual di sana kosher/halal atau tidak.

Sepotong Kue

Salah satu faktor pemanis di sepanjang film ini tentu saja adalah kue-kuenya. Thomas yang merupakan seorang baker profesional Kredenz Cafe di Berlin memiliki peran yang sangat penting dalam menghadirkan manisnya kue-kue di sepanjang cerita.

Lewat kue buatannya itulah Thomas mampu menarik perhatian Oren tiap kali pria itu berkunjung ke Berlin sampai akhirnya mereka terlibat hubungan asmara. Dan lewat kue-kue itu pula Anat mau menerima Thomas sebagai pekerja di cafenya.

Mungkin ini bisa jadi masukan bagi kalian yang masih jomblo untuk menggunakan strategi serupa dalam menggaet calon pasangan. Xixixixi ~

Akhir Kata

Overall, film ini cukup recommended untuk ditonton. Meskipun endingnya masih rada ngegantung, tapi saya cukup menikmati alur ceritanya.


Comments